KARAWANG, BELING.WEB.ID — Langit masih gelap ketika rombongan Majelis Dzikir PESHONAJIB (Pecinta Sholawat Nariyah & Jibril) tiba di kawasan Situ Sangiang, Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Jam menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB. Perjalanan panjang dari Karawang yang dimulai sejak pukul 22.00 WIB, Sabtu malam, 26 September 2026, akhirnya sampai di tujuan.
Tidak ada agenda wisata yang langsung dimulai. Rombongan memilih beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu datangnya waktu Salat Subuh.
Pagi itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang bukan sekadar rekreasi. Bagi PESHONAJIB, perjalanan menuju Situ Sangiang merupakan kesempatan untuk beribadah, bersilaturahmi, mengenal sejarah, serta melakukan napak tilas terhadap jejak masa lalu.
Dari Karawang Menuju Sangiang
Perjalanan malam dipilih agar rombongan dapat tiba di Majalengka sebelum waktu Subuh.
Setelah tiba sekitar pukul 03.00 WIB, para peserta beristirahat sejenak. Ketika waktu Subuh tiba, rombongan kemudian melaksanakan Salat Subuh berjamaah.
Usai salat, suasana berubah menjadi lebih santai.
Kopi hangat, sarapan pagi dan obrolan ringan menjadi bagian dari kebersamaan sebelum agenda utama dimulai.
Setelah perjalanan panjang, momen sederhana tersebut justru terasa istimewa. Tidak ada sekat antara perjalanan, ibadah dan persaudaraan. Semuanya berjalan dalam suasana kekeluargaan.
Sekitar pukul 06.00 WIB, rombongan kemudian bersiap menuju tujuan utama mereka.
Ziarah Makam Sunan Parung

Tujuan utama PESHONAJIB dalam perjalanan ini adalah berziarah ke Makam Sunan Parung, yang berada di sekitar kawasan Situ Sangiang.
Makam Sunan Parung menjadi bagian dari kawasan sejarah dan budaya Desa Sangiang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat Makam Sunan Parung sebagai salah satu objek wisata budaya/sejarah di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Majalengka mencatat Situ Sangiang sebagai situs sejarah dan legenda yang berkaitan dengan Kerajaan Talaga Manggung.
Bagi rombongan PESHONAJIB, ziarah tersebut dimaknai sebagai kegiatan religi sekaligus kesempatan untuk mengenang tokoh dan jejak sejarah masa lalu.
Ziarah tidak ditempatkan sebagai kegiatan untuk mencari kekuatan tertentu dari sebuah tempat atau makam.
Sebaliknya, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk doa, penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia, pengingat akan kehidupan dan kematian, serta upaya mengenal sejarah dan perjalanan tokoh-tokoh masa lalu.
Inilah yang kemudian membuat perjalanan tersebut oleh rombongan dipahami sebagai napak tilas.
Napak tilas bukan berarti menghidupkan kembali seluruh praktik masa lalu, melainkan mengambil pelajaran dari jejak sejarah yang masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Situ Sangiang, Alam yang Berdampingan dengan Sejarah

Setelah selesai berziarah, rombongan kemudian menikmati suasana Situ Sangiang.
Kawasan ini menawarkan perpaduan antara panorama alam dan sejarah yang berkembang di tengah masyarakat.
Situ Sangiang berada di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Kawasan tersebut dikenal tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya.
Kajian mengenai Situ Sangiang menunjukkan bahwa kawasan tersebut mempunyai berbagai tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, ketika seseorang berkunjung ke Situ Sangiang, yang ditemui bukan hanya sebuah kawasan perairan, tetapi juga lingkungan yang memiliki cerita panjang mengenai sejarah, tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.
Mencoba Tradisi Mandi di Situ Sangiang

Selesai melaksanakan ziarah, peserta PESHONAJIB mendapatkan kesempatan untuk menikmati salah satu aktivitas yang dikenal di kawasan tersebut, yaitu mandi di Situ Sangiang.
Para peserta menggunakan kain khusus yang disediakan di lokasi.
Aktivitas tersebut menjadi pengalaman budaya tersendiri bagi rombongan yang datang dari luar daerah. Selain mandi, peserta juga menikmati suasana sekitar dengan memberi makan ikan-ikan yang terdapat di kawasan situ.
Bagi rombongan, pengalaman tersebut merupakan bagian dari menikmati destinasi dan mengenal tradisi masyarakat setempat.
Hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana tradisi lokal dipahami dalam konteks budaya, bukan kemudian dikaitkan dengan anggapan mengenai kekuatan gaib.
PESHONAJIB menempatkan inti perjalanan pada ibadah, ziarah, silaturahmi dan pembelajaran sejarah, sementara aktivitas di Situ Sangiang menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya.
Dengan cara pandang tersebut, perjalanan tetap dapat dinikmati tanpa harus menghilangkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi dasar kegiatan.
Ada Kopi, Ada Doa, Ada Cerita
Salah satu hal menarik dari perjalanan seperti ini justru tidak selalu berada pada tempat yang dikunjungi.
Kadang, nilai sebuah perjalanan muncul dari perjalanan itu sendiri.
Duduk bersama setelah Subuh.
Menikmati kopi.
Sarapan bersama.
Berbincang setelah perjalanan malam.
Berjalan bersama menuju makam.
Kemudian menikmati suasana alam Situ Sangiang.
Hal-hal sederhana tersebut menjadi ruang untuk membangun kebersamaan.
Bagi sebuah majelis, perjalanan religi juga dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarpeserta. Sebab, ketika seseorang menempuh perjalanan bersama dalam waktu yang cukup panjang, interaksi yang terjadi bukan lagi sebatas pertemuan rutin.
Ada cerita yang dibagikan.
Ada pengalaman yang dikenang.
Dan ada persaudaraan yang semakin dekat.
Dari Sangiang Kembali ke Karawang

Sekitar pukul 11.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Rombongan PESHONAJIB kemudian meninggalkan kawasan Situ Sangiang dan memulai perjalanan kembali menuju Karawang.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, rombongan tiba di Karawang sekitar pukul 15.00 WIB.
Perjalanan yang dimulai pada Rabu malam tersebut akhirnya berakhir pada Kamis sore.
Namun, bagi peserta, perjalanan itu meninggalkan lebih dari sekadar dokumentasi foto dan video.
Ada pengalaman menjalankan ibadah bersama.
Ada kesempatan mengenal sejarah.
Ada interaksi dengan tradisi masyarakat.
Dan tentu saja ada cerita perjalanan yang akan kembali dikenang.
Wisata Religi yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Perjalanan PESHONAJIB ke Situ Sangiang memperlihatkan bagaimana wisata religi dapat memiliki dimensi yang lebih luas.
Ziarah memberikan ruang untuk refleksi spiritual.
Napak tilas membuka kesempatan untuk mengenal sejarah.
Wisata budaya memperkenalkan tradisi masyarakat.
Sementara perjalanan bersama membangun silaturahmi.
Situ Sangiang menjadi titik pertemuan dari semuanya.
Di satu sisi, pengunjung dapat menikmati alam dan suasana kawasan pegunungan. Di sisi lain, mereka dapat mengenal cerita sejarah dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Sangiang.
Bagi PESHONAJIB, perjalanan tersebut bukan tentang mencari sesuatu yang bersifat mistis.
Perjalanan ini lebih sederhana: datang, berdoa, mengenal sejarah, menghargai tradisi, menikmati alam dan mempererat persaudaraan.
Dari perjalanan malam Karawang menuju Sangiang, hingga kembali lagi pada sore hari, satu hal yang tertinggal adalah pengalaman.
Bahwa perjalanan religi tidak selalu harus jauh untuk memberikan makna.
Kadang, cukup dengan menyusuri jejak sejarah, duduk bersama dalam kebersamaan, dan pulang membawa pelajaran baru.
PESHONAJIB telah menempuh perjalanan menuju Sangiang. Bukan sekadar untuk sampai di sebuah tempat, tetapi untuk mengenal jejak masa lalu dan membawa nilai-nilainya dalam perjalanan kehidupan hari ini.
Redaksi
